counter create hit

7 Bahaya Pinjaman Online Yang Sering Dilupakan

Bagikan:

Pinjaman online hadir dengan menawarkan banyak sekali akomodasi kredit kepada masyarakat. Tanpa agunan dan tanpa syarat yang ribet, dana pinjaman dapat cair dalam waktu kurang dari sehari, bahkan hanya dalam berjam-jam. Namun selain menjanjikan akomodasi, santunan online juga mempunyai bahaya bagi nasabahnya.

Tidak jarang kita mendengar kasus pinjol yang cukup kontroversial antara peminjam dengan perusahaan keuangan tempatnya mengajukan pemberian. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri sudah mewanti-wanti masyarakat biar teliti dan waspada sebelum mengajukan pertolongan online. Karena meskipun fintech yang satu ini sangat membantu dalam kondisi darurat, namun ada beberapa risiko yang perlu Anda amati dengan saksama.

Fokus goresan pena ini bukan untuk menanamkan keraguan pada perusahaan pemberian online, tetapi sebagai usulanbagi Anda sebelum menetapkan mengajukan pemberian ke fintech.

Berikut bahaya pertolongan online yang sering dilupakan oleh calon nasabahnya.

1. Bunga yang sangat tinggi

Bunga perlindungan online boleh dibilang sangat tinggi. Beberapa pinjol menerapkan bunga harian untuk sumbangan yang mereka salurkan, ada pula yang memberlakukan bunga bulanan atau tahunan.

Sampai saat ini OJK belum memutuskan batas-batas optimal bunga yang boleh diberlakukan kepada peminjam, berbeda dari bank atau koperasi yang jumlah suku bunganya sudah dikelola. Sistem bunga perlindungan online diserahkan kepada market player, alias perusahaan pinjol itu sendiri.

Besaran bunga tunjangan berlawanan-beda tiap perusahaan. IKI Modal contohnya, menetapkan bunga 0,13 persen per hari. Avantee menerapkan bunga 14-25 persen tiap tahun. Kontanku memberlakukan 3-5 persen bunga per bulannya.

Alasan perusahaan perlindungan online memutuskan bunga setinggi ini salah satunya ialah tingginya risiko nasabah online tidak membayar tunjangan mereka. Di samping itu, bunga yang tinggi ialah konsekuensi masuk akal dari mudah dan cepatnya dana perlindungan turun.

Baca Juga:   6 Modus Penipuan Santunan Online, Ini Jebakannya

2. Plafon santunan yang kecil

Dibanding bank, plafon perlindungan online relatif lebih kecil. Meskipun banyak pinjol yang menyampaikan plafon mereka sebesar Rp 2 miliar, tetapi lazimnya derma yang dikabulkan untuk perseorangan berada di angka Rp 5 juta. Bahkan ada beberapa perusahaan yang menerapkan hukum plafon Rp 1-2 juta untuk beberapa tunjangan permulaan, gres kemudian boleh mengajukan untuk plafon yang lebih tinggi.

Sekali lagi, ini ialah konsekuensi dari mudah dan cepatnya pengajuan sumbangan online, sehingga perusahaan fintech tidak berani menyalurkan dukungan dengan jumlah yang besar.

3. Tenor yang singkat

Selain jumlah tunjangan yang kecil, tenor perlindungan online juga relatif singkat. Rata-rata waktu yang diberikan perusahaan kepada peminjam untuk melunasi hutangnya yaitu antara 1-3 bulan, paling usang adalah 1-2 tahun itu pun untuk plafon yang cukup besar.

Hal ini dikarenakan perlindungan online ialah kredit jangka pendek yang kebanyakan memang untuk kepentingan konsumtif, berbeda dengan kredit modal perjuangan berjangka panjang yang diberikan oleh bank. Selain itu, modal di banyak perusahaan fintech condong tidak sebesar yang dimiliki bank, sehingga diharapkan perputaran yang cepat biar perusahaan pemberian online mendapatkan keuntungan.

4. Data eksklusif yang dipegang perusahaan derma online

Ini yakni persoalan serius yang wajib diamati oleh calon nasabah sumbangan online. Saat mendaftar untuk meminjam, Anda diwajibkan mengunggah data-data langsung mirip KTP, nomor telepon, dan nomor NPWP. Dengan mengajukan dukungan terhadap perusahaan dukungan online, Anda mempunyai arti setuju menyerahkan data-data sensitif Anda terhadap pihak kedua.

Belum lagi, aplikasi sumbangan online yang dipasang umumnya akan minta perizinan untuk mengakses data-data yang berada di perangkat Anda, seperti kontak di HP, galeri foto, lokasi, bahkan konfigurasi ponsel pintar. Aplikasi tersebut lazimnya belum mampu digunakan jika Anda belum mengijinkan data-data Anda diakses.

OJK telah mengeluarkan regulasi agar perusahaan fintech melindungi data-data pribadi nasabahnya, tetapi tetap tidak menjamin tidak akan ada kebocoran di situ. Salah satu tindak penyalahgunaan data langsung yang kerap ditemui yaitu penjualan data terhadap pihak ketiga. Imbas kecilnya, nasabah kerap mendapat SMS/telepon dari nomor tak diketahui yang memberikan penawaran tanpa henti. Imbas besarnya, data pribadi dipakai untuk menyerang nasabah.

Baca Juga:   12 Aplikasi Paylater Terbaik Di 2022, Tanpa Kartu Kredit

Di sinilah pentingnya memilih pinjol yang benar-benar kredibel dan terpercaya. Pilihlah perusahaan fintech yang terdaftar atau diawasi OJK. Perusahaan fintech yang kredibel selayaknya akan lebih ketat mempertahankan data-data eksklusif nasabahnya.

5. Biaya manajemen

Selain menerapkan bunga, perusahaan perlindungan online juga memberlakukan biaya administrasi, dan biaya ini umumnya diiris langsung dari plafon pemberian. Besarnya bervariasi antara 3-10 persen dari jumlah derma yang disetujui.

Misalnya Anda meminjam Rp 1 juta dengan ongkos manajemen 5 persen, maka dana yang mau Anda terima sebesar Rp 950 ribu, alasannya adalah Rp 50 ribu eksklusif diiris sebagai biaya administrasi. Namun besaran bunga tetap dikalikan dengan derma permulaan, ialah Rp 1 juta.

6. Kredibilitas perusahaan pertolongan online

Layanan pertolongan online tak terhitung banyaknya, beberapa di antaranya memperlihatkan plafon besar dengan jaminan dana cair dalam berjam-jam, sungguh menggiurkan bagi calon nasabah yang membutuhkan dana cepat dalam keadaan darurat. Namun, tidak semua perusahaan derma online kondusif. Banyak yang bahkan tidak terdaftar di OJK.

Untuk menganalisa apakah perusahaan fintech kawasan Anda bakal mengajukan sumbangan merupakan perusahaan kredibel, datangi laman resmi OJK, di mana terdapat daftar perusahaan fintech yang sudah mengantongi izin. Calon nasabah juga harus pandai dalam memperhatikan karakteristik derma online ilegal sehingga bisa membedakan mana yang resmi dan tidak.

Mendaftar pertolongan online pada perusahaan ilegal amat berbahaya. Selain bunga yang tidak masuk nalar dan keselamatan data-data Anda dipertanyakan, pinjol ilegal kebanyakan juga tidak mengindahkan cara-cara profesional dalam penagihan dukungan.

Berita baiknya, OJK bareng pihak berwenang telah menertibkan puluhan layanan pemberian online ilegal yang merugikan penduduk . Namun masih banyak layanan pinjol tak terdaftar di luar sana, seharusnya calon nasabah berhati-hati dan hanya mengajukan kredit pada perusahaan yang terpercaya.

7. Cara penagihan yang mengusik nasabah

Jika Anda belum mampu melunasi tunjangan online dalam tempo yang diputuskan, Anda akan dikenakan denda per hari, di samping bunga yang terus dihitung sampai Anda simpulan membayar keharusan. Selain itu, perusahaan dukungan online juga akan gigih mendesak Anda supaya secepatnya melunasi hutang.

Baca Juga:   Cara Modern Mengembalikan Chat Whatsapp Yang Dihapus

Pada perusahaan-perusahaan fintech yang kredibel, cara menagih nasabah umumnya masih dalam koridor profesional. Namun, pinjol ilegal sering menggunakan cara penagihan debt collector yang sarat dengan teror dan praktik tidak etis.

Pertama, Anda akan diberi pengingat berbentukSMS, WA, atau telepon biar secepatnya mengeluarkan uang pertolongan. Jika telah menerima reminder namun nasabah belum juga mengeluarkan uang, pihak penyedia pinjaman umumnya akan intensif melaksanakan penagihan, bahkan menyambangi langsung ke alamat nasabah.

Jika hingga Anda dianggap gagal membayar oleh perusahaan pinjol, maka perusahaan fintech ini dapat melapor ke OJK, di mana nasabah bisa dikenai hukuman maksimal berbentukdimasukkan daftar hitam sebab absen dari kewajiban, sehingga tidak mampu mengajukan kredit di mana pun.

Cara penagihan sumbangan online secara lazim lebih ketat dan intensif dibanding bank atau perusahaan keuangan lain. Untuk itu, sebelum mengajukan pertolongan, tentukan Anda memiliki kesanggupan untuk mengembalikannya ditambah bunga dan biaya lain-lain.


Bagikan:
close