Apa Itu Fintech: Pengertian, Jenis, Teladan, Dan Dasar Hukumnya - KichanHelp

Apa Itu Fintech: Pengertian, Jenis, Teladan, Dan Dasar Hukumnya

Bagikan:

KichanHelp.com – Dalam bertahun-tahun dewasa ini, industri keuangan Indonesia diramaikan dengan banyaknya perusahaan atau startup fintech. Perusahaan-perusahaan ini mengklaim dapat membuat lebih mudah dan mempercepat setiap transaksi keuangan dengan produk teknologi yang mereka perkenalkan.

Tapi, apa bahu-membahu fintech itu dan bagaimana pertumbuhan ini mampu terjadi? Simak ulasannya dari michan berikut ini:

Pengertian Fintech

Fintech yakni abreviasi dari financial technology, suatu inovasi teknologi yang ditujukan untuk melengkapi dan memudahkan transaksi keuangan di penduduk . Fintech bersaing dengan institusi keuangan tradisional untuk mendatangkan layanan finansial ke penduduk luas.

Cakupan fintech sangat luas mulai dari mobile banking sampai payment gateway. Di Indonesia sendiri sesungguhnya industri ini sudah muncul semenjak paruh simpulan dekade tahun 2000-an, akan namun perkembangan fintech lebih masif lagi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang mempunyai ponsel pintar pada paruh kedua dekade 2010-an.

Pada tahun 2015, berdirilah Asosiasi Fintech Indonesia yang menaungi perusahaan-perusahaan yang bergelut di bidang ini. Sejak saat itu, jumlah perusahaan fintech di Indonesia terus meningkat sampai ketika ini terdapat 103 perusahaan fintech yang tercatat di OJK.

Jenis-Jenis Fintech

Financial Stability Board (FSB) sebagaimana dilansir oleh CNBC,membagi jenis-jenis Fintech menjadi 4 klasifikasi sesuai jenis layanannya yakni:

1. Payment, clearing dan settlement

Fintech kategori payment, clearing dan settlement yakni financial technology yang bergerak di bidang pembayaran dan kliring baik itu yang dijalankan oleh perusahaan keuangan besar, perusahaan teknologi, maupun Bank Indonesia.

Contoh dari fintech jenis ini adalah aplikasi payment gateway atau aplikasi dompet digital mirip Ovo, Gopay, Doku, dan Xendit.

2. E-aggregator

Aplikasi atau situs web fintech jenis e-aggregator bertugas untuk membantu pelanggan menghimpun data-data keuangan tertentu sehingga pelanggan mampu memilih keputusan terbaik.

Baca Juga:   Cara Beli Reksa Dana Di Bibit, Bisa Bayar Pakai Gopay Dan Linkaja

Contoh aplikasi fintech e-aggregator adalah CekAja, sebuah fintech yang mengumumkan perbandingan data-data santunan dan asuransi dari banyak lembaga keuangan di Indonesia. Contoh lainnya adalah aplikasi financial planner, finansialku.

3. Manajemen risiko dan investasi

Jenis yang ketiga adalah perusahaan fintech yang bergerak di bidang manajemen risiko dan investasi. Fintech jenis ini menyediakan layanan bagi pengguna yang ingin berinvestasi ke pasar modal maupun pasar komoditas. Contoh fintech yang menawarkan layanan ini mirip, Bibit, Bareksa, Stockbit dan lain sebagainya.

4. Fintech lending

Jenis fintech menurut layanannya yang keempat yakni fintech lending atau perusahaan teknologi keuangan yang menghimpun dana dari masyarakat untuk dipinjamkan ke masyarakat lainnya. Fintech lending atau P2P Lending ini bisa dibagi lagi menjadi beberapa klasifikasi.

Kategori yang pertama, fintech lending sesuai dengan target konsumennya. Ada fintech lending yang menargetkan peminjam dari UMKM (microfinance) dan ada juga yang menargetkan ke perusahaan menengah sampai besar.

Kategori yang kedua, fintech lending berdasarkan prinsip yang diusung. Dalam klasifikasi ini ada fintech lending konvensional dan ada fintech lending syariah. Contoh fintech syariah yakni Alami Syaria, LinkAja syariah, dan lain-lain.

Perusahaan teknologi keuangan (Tekfin) jenis inilah yang kadang kala menimbulkan urusan di penduduk . Oleh karena itu, bila Anda ingin menjadi debitur atau kreditur di perusahaan jenis ini, tentukan perusahaan tersebut telah terdaftar dan berizin OJK.

Menurut hemat penulis, selain 4 jenis perusahaan teknologi keuangan di atas, ada satu jenis perusahaan fintech lagi yang meningkat di Indonesia ialah:

5. Donation-based crowdfunding

Menurut the Charities Aid Foundation sebagaimana diberitakan oleh Tempo, Indonesia ialah negara paling murah hati di dunia. Maka dari itu, tak heran kalau perusahaan teknologi keuangan yang berbasis donasi di negeri ini bisa berkembang pesat.

Contohnya ialah aplikasi keuangan berbasis bantuan Kitabisa yang sampai kini sudah diunduh oleh lebih dari 1 juta pengguna di Google Play Store dan pada tahun 2020 kemudian berhasil mengumpulkan bantuan sebesar 835 miliar rupiah dari 6 juta lebih penggunanya.

Baca Juga:   Bi Checking: Pengertian Dan Cara Mengevaluasi

Fungsi Fintech

Keberadaan financial technology ini memiliki beberapa fungsi dan manfaat diantaranya:

1. Mempermudah transaksi keuangan

Kini dengan adanya teknologi keuangan ini, masyarakat bisa membayar dan berbelanja banyak keperluan cuma dengan menggunakan handphone saja. Platform payment gateway misalnya, mempermudah proses transaksi jual beli online dengan menyambungkan aneka macam macam sistem pembayaran yang dikerjakan konsumen dengan platform yang dipakai oleh marketplace.

Contoh yang lain sekarang Anda bisa berbelanja tiket kereta api dan pesawat dengan tanpa mesti ke counter pribadi dengan memesan menggunakan aplikasi pemesanan dan membayarnya lewat aplikasi dompet digital atau mobile banking.

2. Mempermudah akses terhadap bantuan UMKM

Salah satu urusan yang sering melilit UMKM adalah permodalan. Mereka mampu saja meminjam uang ke bank, namun kerap kali standar yang harus diberikan untuk mengajukan sumbangan bank cukup rumit.

Dengan adanya fintech lending, sekarang UMKM bisa mendapatkan jalan masuk permodalan alternatif dengan syarat dan mekanisme yang relatif lebih gampang meskipun dengan bunga tinggi.

3. Mempermudah investasi

Tidak mampu disangkal bahwasannya kenaikan jumlah penanam modal di Indonesia dalam beberapa tahun kebelakang ini salah satunya akhir adanya fintech investasi yang memudahkan proses investasi di pasar modal.

Dulu, jikalau seorang calon penanam modal ingin berinvestasi, maka ia harus mendatangi kantor cabang perusahaan sekuritas terdekat dan mengisi banyak formulir. Akan tetapi kini, menciptakan rekening dana investasi dan rekening saham cukup melalui aplikasi investasi keuangan yang ada di handphone.

4. Meningkatkan ekonomi negara

Pada kesannya, adanya fintech bisa memajukan ekonomi negara baik itu dari segi konsumsi, investasi maupun birokrasi. Fintech, mampu membantu konsumsi berputar dengan segera dan tepat, investasi jadi lebih terjangkau untuk siapapun serta pembayaran pajak, pembelian obligasi pemerintah juga bisa dilakukan melalui pemberian teknologi ini.

Oleh sebab itu, keberadaan fintech harus dikontrol oleh pemerintah atau jika tidak, fintech justru mampu menjadi bumerang bagi perekonomian negara.

Dasar Hukum Fintech

Sebagai otoritas yang mengatur kondisi makroekonomi Indonesia yang berhubungan dengan uang dan industri keuangan, Bank Indonesia mengeluarkan beberapa peraturan yang menyangkut soal fintech selaku berikut:

  • Peraturan Bank Indonesia No. 18/40/PBI/2016 wacana Penyelenggaraan Pemrosesan Transaksi Pembayaran
  • Surat Edaran Bank Indonesia No. 18/22/DKSP perihal Penyelenggaraan Layanan Keuangan Digital
  • Peraturan Bank Indonesia No. 18/17/PBI/2016 ihwal Uang Elektronik
Baca Juga:   4 Tipe Trader, Mana Yang Terbaik?

Contoh Fintech

Payment gateway

  • Doku
  • Xendit
  • Midtrans
  • IonPay

Dompet digital

  • Ovo
  • Dana
  • LinkAja
  • GoPay
  • Shopee Pay

P2P Lending

  • Amartha
  • Investree
  • Alami Sharia
  • Modal Rakyat
  • Santara
  • LandX

Aplikasi Perpajakan

  • Online Pajak
  • Pajakku
  • Klik Pajak

Aplikasi Investasi

  • Bibit
  • Bareksa
  • Tokocrypto
  • Indodax
  • Zipmex
  • Stockbit
  • POEMS
  • Ajaib
  • Pluang

Aplikasi Keuangan Pribadi

  • Finansialku

Aplikasi Donasi

  • Kitabisa

Bagikan:
close