counter create hit

Apa Itu Tokenisasi?

Bagikan:

Dengan makin populernya crypto di seluruh dunia, tokenisasi menjadi suatu tren yang menggusur paradigma usang. Berikut klarifikasi lengkapnya.

Pengertian Tokenisasi 

Tokenisasi ialah proses yang mengubah aset berbentuk aktual menjadi token sehingga dapat dipindah, disimpan, serta direkam dalam blockchain. Tidak hanya berlaku untuk aset yang memiliki wujud fisik, tokenisasi pada crypto juga berlaku untuk aset lainnya, mirip halnya surat piutang dan sebagainya.

Dengan menunjukkan bentuk baru pada suatu aset di dunia nyata, maka pelaku tokensisasi pun akan mendapatkan keuntungan dari perdagangan token itu pula.

Untuk membuat lebih mudah Anda memahaminya, Anda bisa menggunakan acuan berupa aset sebidang tanah dan membutuhkan modal untuk membuka usaha di atas tanah tersebut. Tanpa harus melepas kepemilikan tanah, Anda mampu memberikan aset tanah tersebut sebagai token terhadap para investor lewat blockchain, misalnya 1 token untuk 1 meter persegi luas tanah. Anda pun bisa menerima modal dari penawaran token yang terjual untuk membuka usaha sambil memperlihatkan bagi hasil terhadap para investor pemegang token.

Untuk bisa membuat token, Anda pasti harus mampu menciptakan algoritme token pada platform crypto di Ethereum memakai smart contract selaku fiturnya. Kontrak cendekia sendiri bisa dikatakan sebagai perjanjian yang mau berjalan secara otomatis pada dikala syarat dan ketentuan telah tercukupi di antara pedagang dan pembeli di jaringan blockchain. Smart contract juga dibuat khusu supaya tidak dapat dipengaruhi oleh pihak lain selain pedagang dan pembeli.

Jenis Tokenisasi  

Jenis tokenisasi mampu dibedakan berdasar aset yang dikerjakan. Namun secara garis besar, proses konversi aset menjadi token ini dapat dikategorikan menjadi 3, adalah:

1. Tokenisasi Aset Intangible

Tokenisasi Aset Intangible yaitu konversi aset yang tidak memiliki penampakan secara fisik menjadi token crypto sehingga mampu diperjualbelikan. Aset intangible di sini bisa berupa hak cipta, hak milik, hak suara dan sebagainya yang tidak memiliki bentuk fisik.

Baca Juga:   Arbitrase Pada Crypto: Cara Kerja, Jenis, Risiko

Tokenisasi dari aset intangible ini mensyaratkan bahwa  sistem versi blockchain yang digunakan untuk mentransfer aset mesti sesuai dengan transfer di dunia konkret untuk menghindari pergeseran nilai. Selain itu, kendla lain yang juga dihadapi oleh mekanisme ini ialah regulasi yang bisa saja berbeda di setiap daerah yang mengatasi aset tersebut.

Jenis tokenisasi smacam ini lazimnya dipakai oleh pencipta lagu atau musisi, klub olahraga atau orang yang memiliki banyak pengikut.

2. Tokenisasi Aset Fungible

Tokenisasi aset fungible yakni menimbulkan aset yang mampu digantikan oleh aset lain yang mempunyai nilai identik maupun aset yang masih dapat dibagi menjadi lebih kecil. Contoh dari aset ini yakni emas, perak, dan sebagainya yang kemudian masih mampu dibagi lagi menjadi nilai yang lebih kecil. Proses tokenisasi pada aset fungible ini memerlukan proses abstraksi dari layer tertentu.

Misalnya, Anda ingin mengganti 1 kg emas menjadi bentuk token. Maka untuk menjadikannya selaku token di crypto, Anda perlu melakukan abstraksi apalagi dahulu. Setelah itu, barulah Anda bisa lebih gampang dalam memberikan token emas tersebut dan memperjualbelikan sebagian darinya terhadap para penanam modal yang ada di blockchain. 

3. Tokenisasi Aset Non-Fungible

Tokenisasi aset non-fungible adalah proses konversi yang menangani aset berwujud barang yang tidak mampu dibagi atau dipecah menjadi bagian yang lebih kecil. Contoh dari aset seperti ini antara lain barang-barang kuno, lukisan maupun karya seni yang lain. Dengan kata lain, Anda mampu menjual saham atas sebuah benda yang memiliki nilai aset.

Jika di dunia kasatmata aset semacam ini harus dibeli secara lengkap, lewat tokensisasi aset non-fungible ini pun dapat dibagi menjadi bagian-bab kepemilikan yang lebih kecil di blockchain. Kaprikornus, ada banyak orang yang mampu memiliki aset non-fungible namun bentuk kepemilikan tersebut berbentuktoken. Akan namun, token yang diperjualbelikan menampung tanda tangan digital oleh pemilik aslinya.  

Kelebihan dan Kekurangan Tokenisasi

Sebagai alternatif dan teknologi gres pada dunia cryptocurrency, tokenisasi hadir dengan keunggulan dan kelemahan yang sebaiknya dikenali oleh para pengguna. Tentu saja, mustahil sesuatu akan diterapkan kalau tidak ada manfaat atau penyelesaian yang ditawarkan. Begitu pula dengan tokenisasi ini, yang memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut.

Baca Juga:   Cara Beli Dogecoin Dengan Gampang (2022)

Dibanding perdagangan aset di dunia nyata, mampu dikatakan tokenisasi menciptakan proses transaksi jadi lebih mudah. Perdagangan aset mirip properti, logam mulia, dan sebagainya di dunia positif dibarengi dengan formasi kriteria dan kelengkapan hukum yang mampu sungguh menguras waktu dan tenaga. Teknologi blockchain pada token mampu mempersingkat banyak hal berbelit dan menimbulkan transaksi menjadi lebih efisien.

Selain halnya meminimalisir waktu dan tenaga, tokenisasi kepada aset juga membuat perdagangannya jadi lebih hemat sebab memakai blockchain pada crypto. Berbagai macam ongkos, seperti mengurus kelengkapan dokumen dan syarat legal acap kali menciptakan nominal simpulan yang didapat dari hasil pemasaran aset jadi berkurang drastis. Di lain sisi, banyak sekali dokumen dan syarat tersebut dapat dieliminasi melalui penggunaan smart contract yang lebih efektif dan efisien.      

Namun perlu dipahami pula bahwa kekurangan utama dari tokenisasi ini ialah masih belum adanya kepastian hukum hingga dikala ini. Selain itu, walaupun diharuskan sepenuhnya patuh pada aturan yang berlaku, tokenisasi sendiri susah untuk diregulasi. Artinya, tidak ada pihak yang memberikan kepastian hukum walaupun banyak yang menerapkan Standard Tokenization Protocol (STP).

Protokol kriteria tokenisasi sendiri cenderung lebih kepada bagaimana kriteria token itu sendiri dibuat, dan bukan sumbangan atas risiko yang mampu menimpa aset. Ya, tidak adanya regulator dalam tokenisasi menyusahkan dalam hal mempertanggungjawabkan hak penanam modal atas aset yang mengalami risiko tertentu. Untuk saat ini, tokenisasi dengan smart contract dan blockchain yang diusung, tampaknya masih belum bisa mengambil alih forum legal yang biasanya melindungi pembeli aset atas risiko yang mungkin saja terjadi.

Terlebih lagi, meskipun token kelak dianggap sebagai hal yang legal dan memiliki pemberian hukum, tetap ada hukum yang berjulukan Security Token Offering (STO). Ini menjadi satu-satunya cara legal dan sesuai hukum untuk memperdagangkan token sekuritas. Dan tebak saja, bila Anda tidak mengikuti cara legal ini, akan ada hukuman pidana, kemungkinan seluruh aset mampu disita dan dikenai denda serta ganti rugi terhadap seluruh penanam modal yang sudah membeli token.

Baca Juga:   Cara Cek Mobil Bekas

Kesimpulan

Ya, tokenisasi terkesan cukup prospektif sebagai cara gres dalam memperdagangkan aneka macam macam aset yang ada di dunia untuk ketika ini. Walau begitu, karakteristik dari dunia crypto turut menjinjing beberapa risiko yang juga peru diwaspadai oleh pengguna. 


Bagikan:
close