fbpx

Disposable Income: Pengertian, Rumus, Cara Menghitung

Bagikan:

KichanHelp.com – Ada beberapa faktor yang bisa berpengaruh terhadap besar kecilnya pemasukan seseorang, terutama jika orang tersebut melakukan pekerjaan sebagai karyawan atau pegawai negeri sipil. Salah satu aspek pemengaruh tersebut ialah pajak.

Pajak yang diterapkan pada gaji karyawan dan PNS ini umumnya dibebankan oleh perusahaan atau negara terhadap tenaga kerja dengan cara mengurangi gaji mereka. Hasil penghematan antara gaji dan pajak serta aspek-aspek lain inilah yang disebut dengan disposable income.

Pengertian Disposable Income

Disposable income (pendapatan disposable) adalah nilai pemasukan seseorang sesudah dikurangi pajak dan berbagai keharusan lain yang dibebankan oleh negara atau perusahaan terhadap orang tersebut. Kewajiban lain ini mampu berbentukasuransi, dana pensiun, dan lain sebagainya.

Secara bahasa, disposable income mempunyai arti pendapatan yang bisa dibuang. Namun secara istilah, pemasukan disposable mampu diartikan sebagai sejumlah pendapatan seseorang yang bisa dipakai untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari atau untuk menabung.

Oleh sebab itu, tidak aneh kalau nama lain dari disposable income adalah take home pay, personal disposable income atau honor higienis.

Rumus Disposable Income

Rumus disposable income adalah:

Personal disposable income = Pendapatan kotor – (Pajak + Kewajiban lainnya).

Cara Menghitung Disposable Income

Dari klarifikasi di atas, terlihat bahwasanya untuk menjumlah disposable income atau pemasukan higienis, Anda harus tahu apalagi dulu apa itu pemasukan kotor. Pendapatan kotor adalah sejumlah pendapatan yang akan Anda peroleh, tapi belum dipotong pajak pendapatan dan lain-lain.

Setelah itu, minimalkan penghasilan kotor tersebut dengan pajak atau belahan lain yang mesti Anda bayarkan. Dalam beberapa kasus, Anda langsung akan mendapatkan pendapatan bersih alasannya pihak SDM perusahaan dan pemerintah akan eksklusif memangkas gaji kotor yang mereka beri ke karyawan mereka. Dengan demikian, karyawan tersebut tidak perlu sibuk-sibuk ke kantor pajak terdekat untuk mengeluarkan uang pajak secara berdikari.

Baca Juga:   Blazer Lengan Balon, Ini nih 10 OOTD Kekiniannya

Contoh

Contoh 1:

Gaji bulanan seorang Pegawai Negeri Sipil ialah sebesar Rp. 3.500.000. Gaji tersebut akan diiris pajak PPh sebesar 15% dan tabungan pensiun (Taspen) sebesar 4,75%. Maka , jumlah pendapatan disposable dari PNS tersebut ialah:

Personal disposable income =  Rp. 3.500.000.- (15% + 4,75%).

= Rp. 3.500.000.- 19,5%

= Rp. 2.817.500.

Contoh 2:

Gaji bulanan seorang karyawan adalah sebesar Rp. 4.500.000. Gaji tersebut akan diiris pajak PPh sebesar 5%, program iuran pensiun perusahaan sebesar 2%, dan asuransi sebesar 5%. Dengan demikian, take home pay yang diperoleh karyawan tersebut ialah sebesar:

Personal disposable income =  Rp. 4.500.000.- (5% + 2%+5%).

= Rp. 4.500.000.- 12%

= Rp. 3.960.000

Oleh alasannya adalah itu seharusnya sebelum Anda bekerja di suatu perusahaan, Anda tanyakan apalagi dahulu tentang kebijakan honor yang diterapkan oleh perusahaan tersebut.

Fungsi Disposable Income

1. Sebagai indikator daya beli

Baik secara ekonomi makro maupun ekonomi mikro, pendapatan disposable ialah salah satu persyaratan daya beli. Sebab, besar kecilnya pemasukan ini berdampak eksklusif pada kesanggupan seseorang untuk berbelanja barang dan jasa demi menyanggupi keperluan sehari-harinya.

Tentu akan percuma jika pemasukan kotor seseorang tinggi tapi orang tersebut dibebani dengan pajak atau tanggungan asuransi yang tidak kalah tingginya. Tentu jatuhnya orang tersebut tidak akan mampu berbelanja apapun yang menjadi kebutuhannya.

2. Sebagai indikator kesehatan keuangan

Fungsi lain dari pendapatan disposable ialah selaku salah satu indikator kesehatan keuangan negara, perusahaan maupun individu. Tentu keuangan seorang individu tidak mampu dibilang sehat kalau ia memiliki tanggungan premi asuransi yang tinggi meskipun orang tersebut tidak mempunyai utang sama sekali.

3. Sebagai salah satu persyaratan kemajuan ekonomi negara

Semakin tinggi disposable income, maka semakin tinggi pula tingkat daya beli dan tingkat konsumsi masyarakat. Tingginya tingkat konsumsi ini akan menjalar ke sektor lain seperti, investasi, penyaluran dana bantuan, pajak dan lain sebagainya. Akibatnya, ekonomi sebuah negara sehat dan maju.

Tentu masih hangat di benak Anda bagaimana kondisi daya beli dan konsumsi penduduk Indonesia melemah sebab adanya pandemi. Akibat pelemahan konsumsi ini, bisnis-bisnis sepi dan pemasukan negara dari pajak pun menurun.

Baca Juga:   10 Potret Kocak Hasil Minta edit Foto Gratisan, Ngakak Abis

Para mahir ekonomi memakai rancangan pemasukan disposable ini untuk mengkalkulasikan marginal propensity to consume dan marginal propensity to save. Marginal propensity to consume yaitu rata-rata kenaikan konsumsi seiring dengan peningkatan pendapatan sedangkan marginal propensity to save adalah ata-rata kenaikan jumlah tabungan seiring dengan peningkatan pendapatan. Kedua desain ini penting untuk menolong pemerintah merumuskan kebijakan perekonomian.

Berapa Rata-Rata Disposable Income Masyarakat Indonesia?

Dilansir dari data CEIC, pendapatan penduduk Indonesia per bulan pada tahun 2021 sekitar 170 USD atau berkisar 2,4 juta setiap bulannya. Masih menurut publikasi yang serupa, nilai pemasukan ini tidak mengalami pergantian dibandingkan tahun 2020 namun mengalami penurunan dari tahun 2018 yang notabene ketika itu rata-rata pendapatan penduduk Indonesia meraih 185 USD per bulan atau sekitar 2,6 juta setiap bulannya.

Sedikit berbeda dengan data yang dipublikasikan oleh CEIC di atas, pemasukan per kapita masyarakat Indonesia menurut data world bank ialah sebesar 3.869 USD atau sekitar 55 juta per tahunnya. Nilai ini menurun sekitar 6,42% dibandingkan pendapatan per kapita Indonesia pada tahun 2019.

Tips Meningkatkan Disposable Income

1. Ketahui akomodasi dan benefit yang disediakan perusahaan

Seperti yang telah dibahas di atas, kerap kali perusahaan menawarkan fasilitas asuransi yang jumlah preminya dipotong langsung dari gaji. Oleh sebab itu, ketika wawancara kerja, pastikan Anda mengajukan pertanyaan secara rincian tentang detail gaji dan akomodasi perusahaan.

Jangan lupa tanyakan juga perihal hal-hal yang bisa mengembangkan take home pay Anda seperti, upah lembur, bonus alasannya adalah sudah melakukan pekerjaan melampaui KPI dan lain sebagainya. Tentu perusahaan yang baik akan menghargai kinerja karyawannya dengan kemudahan yang baik juga.

2. Tambah penghasilan dengan pekerjaan sampingan

Tips yang kedua ialah memperbesar penghasilan dengan pekerjaan sampingan seperti menjadi editor lepas, desainer lepas, ojek online, dan lain sebagainya. Selain bisa memperbesar penghasilan, sisi positif dari side hustle ini juga relatif lebih bebas pajak. Namun segi negatifnya adalah, pekerjaan sampingan akan memakan waktu Anda untuk keluarga dan diri Anda sendiri.

Baca Juga:   Kelebihan Dan Kelemahan Bank BNI

Bagikan: