May 18, 2022
Jl. Raya Kb. Jeruk, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Investasi

Divestasi: Pemahaman, Tujuan, Acuan, Dan Pengaruh Bagi Investor

KichanHelp.com – Beberapa tahun lalu sempat geger diberitakan oleh media nasional tentang kasus divestasi saham Newmont yang disangka merugikan negara hingga miliaran rupiah. Dilansir dari Tempo, polemik tersebut dimulai saat pemerintah tempat memutuskan untuk melaksanakan menjual sahamnya sebanyak 24% atas perusahaan pertambangan emas tersebut ke PT. Amman Mineral Internasional.

Dari masalah yang hingga sekarang masih diselidiki ini, kita tahu bahwa divestasi adalah salah satu acara penting dalam investasi. Apalagi kalau divestasi ini menyangkut dana publik. Tapi, apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan divestasi dan bagaimana hal ini mampu mempunyai pengaruh bagi investor? Simak ulasannya berikut ini:

Pengertian Divestasi

Divestasi yakni pelepasan atau pemasaran unit usaha atau aset perusahaan demi mencapai banyak sekali manfaat tertentu di kurun depan. Singkatnya, divestasi ialah kebalikan dari investasi. Jika investasi yakni pembelian atau pendirian unit usaha dan aset demi mendapatkan keuntungan, maka divestasi yakni sebaliknya.

Dalam pola masalah divestasi Newmont di atas, divestasi sama dengan penjualan saham oleh pemerintah tempat. Namun, pada dasarnya kata divestasi dapat digunakan untuk pelepasan aset secara umum. Misalnya, pemasaran mobil perusahaan atau gedung perusahaan kepada pihak ketiga.

Tujuan Divestasi

Meskipun terdengar mempunyai konotasi negatif, akan namun divestasi bisa mempunyai arti nyata dan negatif tergantung dengan maksudnya. Berikut ini beberapa tujuan dari divestasi:

1. Menjual aset yang kurang menguntungkan

Tujuan divestasi yang pertama adalah untuk menjual aset yang kurang menguntungkan atau bahkan merugikan. Pada kasus Newmont di atas misalnya. Alasan pemerintah kawasan menjual kepemilikan sahamnya pada tahun 2016 ialah alasannya perusahaan tambang tersebut tidak membagikan dividen selama 5 tahun sejak tahun 2011.

2. Restrukturisasi bisnis

Alasan yang kedua suatu perusahaan meniadakan investasinya pada lini perjuangan tertentu adalah demi restrukturisasi bisnis. Restrukturisasi ini mampu terjadi alasannya beberapa hal seperti adanya unit usaha yang tidak menguntungkan, ingin fokus pada unit usaha lain yang lebih menguntungkan atau alasannya adanya merger dan akuisisi yang menyebabkan sebuah perusahaan mesti beradaptasi dengan perusahaan lainnya.

Baca Juga:   Cara Menjumlah Saham

Salah satu perusahaan yang melakukan divestasi bisnis dengan alasan ini yaitu Gojek. Sebagaimana yang diberitakan oleh Kompas, Gojek secara resmi menutup seluruh layanan GoLife miliknya pada bulan Juli 2020. Hal ini karena layanan ini ialah layanan yang paling terdampak pandemi dan karena Gojek ingin konsentrasi pada 3 layanan khususnya (Goride, Gofood dan Gopay) serta layanan yang berpotensi menguntungkan di kala pandemi seperti GoSend dan layanan grocery-nya.

3. Divestasi karena take profit

Alasan lain seseorang atau suatu perusahaan melakukan divestasi ialah karena harga instrumen investasi miliknya sudah mencapai level yang dikehendaki sehingga pas untuk take profit.

Contohnya gampang. Katakanlah penanam modal A membeli saham CC saat harga saham tersebut masih Rp. 3.000 per lembar. Investor A yakin bahwasannya cepat atau lambat saham perusahaan tersebut akan meraih Rp. 3.500 per lembar. Maka, ketika harga saham CC telah mencapai Rp. 3.500 per lembar, penanam modal A bisa melaksanakan divestasi dengan cara menjual saham yang beliau miliki.

4. Mengurangi kesempatankerugian

Alasan terakhir mengapa suatu perusahaan atau individu melakukan investasi yakni alasannya adalah meminimalkan kesempatankerugian. Contoh divestasi karena hal ini dalam investasi yakni saat seorang penanam modal mengaplikasikan cut loss pada aset yang harganya sedang menurun sampai level tertentu.

Apabila taktik cut loss ini tidak dipraktekkan, tidak menutup kemungkinan harga aset tersebut akan terus jatuh dan tidak naik kembali sehingga alih-alih menerima laba, saham penanam modal terkait justru akan nyangkut.

Cara Kerja Divestasi

Divestasi dapat dikerjakan dengan beberapa cara, diantaranya:

1. Menjual Aset

Seorang investor atau perusahaan bisa dibilang melakukan divestasi dikala beliau memasarkan asetnya, baik itu berupa surat berharga maupun fisik, kepada perusahaan atau individu lain.

2. Spin-off

Divestasi dengan cara spin-off yakni salah satu cara divestasi yang biasanya dilaksanakan oleh perusahaan terhadap unit bisnisnya. Caranya ialah dengan menimbulkan unit bisnis tersebut sebagai entitas anak perusahaan namun dalam hal pembukuan masih bergabung dengan perusahaan induknya. Dengan demikian, saham anak perusahaan tersebut mampu dijual kepada penanam modal.

Baca Juga:   Warrant: Pengertian, Fungsi, Karakteristik

3. Carve out

Metode carve out mirip dengan divestasi dengan tata cara spin-off diatas. Bedanya ialah, unit perjuangan yang dijadikan anak perusahaan tersebut benar-benar menjadi perusahaan baru dengan tidak mencampurkan pembukuannya dengan laporan keuangan perusahaan induk.

4. Menutup unit perjuangan terkait

Cara divestasi yang terakhir yakni dengan menutup atau menghentikan acara bisnis unit usaha yang tidak menguntungkan. Boleh dikatakan cara ini yakni alternatif yang terakhir. Hal ini mengingat bahwasannya di dalam unit usaha tersebut ada tenaga kerja yang terpaksa mesti di PHK dan aset fisik yang tidak mampu ditinggalkan.

Dengan adanya beberapa seni manajemen divestasi alternatif di atas, diperlukan perusahaan perusahaan menentukan salah satu dari beberapa seni manajemen alternatif tersebut alih-alih menutup unit bisnis terkait.

Dampak Divestasi Bagi Investor

Secara garis besar, divestasi mampu memperlihatkan keuntungan, maupun kerugian untuk seorang investor baik itu penanam modal ritel maupun institusi. Divestasi mampu mendatangkan keuntungan apabila dikerjakan dengan benar dan dengan pertimbangan yang matang.

Contohnya, dikala Anda menetapkan untuk memasarkan saham perusahaan A yang harganya terus menurun sampai level cut loss yang Anda tentukan sebelumnya. Bisa jadi Anda sangsi sebab bahu-membahu kondisi keuangan perusahaan A baik-baik saja meskipun pandemi merugikan beberapa sektor bisnisnya.

Namun, Anda tetap menetapkan untuk menjualnya alasannya argumentasi disiplin terhadap trading plan. Ternyata, beberapa hari sehabis Anda menjual saham tersebut, harga saham perusahaan A masih terus jatuh alasannya adalah penutupan unit usahanya secara besar-besaran.

Sebaliknya, divestasi juga bisa menyebabkan kerugian. Kerugian disini bisa berarti kerugian materiil maupun kehilangan kesempatan. Kerugian akibat kehilangan potensi ini terkadang menjangkiti penanam modal yang berbelanja saham cuma karena fear of missing out sehingga, saat harga saham terkait turun mereka buru-buru menjualnya. Padahal, tidak menutup kemungkinan harganya akan naik lagi di kurun depan.

Mengapa Perencanaan Divestasi Adalah Hal yang Penting?

Tidak cuma cut loss dalam perdagangan saham, penyusunan rencana divestasi yaitu hal yang penting bagi semua bisnis. Dalam hal ini, perusahaan harus menciptakan key performance indicator (KPI) sedemikian hingga kinerja karyawan dan unit bisnis tertentu mampu terukur dengan baik.

Baca Juga:   Cara Menghitung Keuntungan Reksadana

KPI ini mampu menjadi patokan apakah sebuah unit bisnis meraih sasaran kinerja dan keuntungan yang dibutuhkan atau tidak. Kalau ternyata target laba tidak tercapai dan hal itu terjadi beberapa kali, maka perusahaan bisa melakukan divestasi atas unit bisnis terkait demi efisiensi kinerja bisnis. Sebaliknya, bila target kinerja tercukupi, perusahaan mampu menambah investasi pada unit bisnis tersebut.