counter create hit

Floating Profit Dan Floating Loss Dalam Investasi Saham

Bagikan:

Dalam investasi saham, naik turunnya harga saham ialah hal yang biasa. Tinggal bagaimana cara Anda selaku seorang penanam modal dalam menanggapi peningkatan dan penurunan harga saham tersebut. 

Ada investor yang saat harga sahamnya naik pribadi dijual atau beli aset tersebut lagi dengan tanpa pikir panjang. Ada juga penanam modal yang ketika harga sahamnya turun pribadi dijual begitu saja alasannya takut merugi. Tapi, ada juga penanam modal yang tidak segera mengambil keputusan ketika harga saham miliknya naik atau turun. Investor yang seperti ini secara langsung membuat floating profit dan floating loss pada sahamnya.

Pengertian Floating Profit

Floating profit yaitu unrealized gain atau keuntungan yang belum direalisasikan. 

Hal ini terjadi alasannya penanam modal atau trader masih belum bisa mengambil keputusan untuk memasarkan aset yang mereka miliki (take profit) meskipun harga aset tersebut lebih tinggi dibanding harga saat mereka membelinya. Alasannya umumnya sasaran profit yang dikehendaki belum tercapai. Akibatnya, saham tersebut dibiarkan mengambang begitu saja di chart. 

Contoh Floating Profit

Misalnya, seorang penanam modal berinvestasi untuk berbelanja kendaraan bermotor impiannya selama bertahun-tahun. Karena dia memakai taktik dollar cost averaging, rata-rata harga beli saham motor miliknya yaitu sebesar Rp. 4.000 rupiah dan kini dia telah memiliki 5.000 lot. 

Harga motor impiannya yakni sebesar Rp. 22.750.000 sementara dikala ini harga saham motor miliknya ialah 4.350 sehingga total aset saham motornya sebesar Rp. 21.750.000 sehingga kalau dia menetapkan untuk take profit, beliau masih harus nambah duit Rp. 1.000.000 lagi untuk bisa membeli motor tersebut. 

Karena gundah, ia pun selama beberapa hari memutuskan untuk tidak menjual saham tersebut sehingga laba sahamnya yang sebesar 1.750.000 (Rp. 21.750.000 -(4.000 *5.000) menjadi floating profit. 

Baca Juga:   7 Keuntungan Investasi Saham

Pengertian Floating Loss

Kebalikan dari floating profit adalah floating loss atau unrealized loss.Ini artinya seorang penanam modal masih belum memasarkan saham miliknya walaupun harga saham tersebut anjlok. Hal ini bisa terjadi alasannya adalah dia ragu untuk mengambil langkah cut loss

Baik floating profit maupun floating loss yakni sama-sama keuntungan dan kerugian yang belum direalisasikan. Sebuah keuntungan maupun kerugian dibilang telah direalisasikan kalau penanam modal sudah menjual (take profit atau cut loss) saham terkait. Hal ini karena pada ketika proses pemasaran investor harus membayar fee broker dan belum tentu harga penjualan saham sesuai dengan harga penjualan yang diinginkan oleh investor tersebut. 

Contoh Floating Loss

Misalnya, investor A membeli saham XYZ sebanyak 1.000 lembar dikala harga surat berharga tersebut masih 3.000 per lembar. Namun, harga saham XYZ justru berangsur-angsur turun hingga 2.500 per lembar hingga 1 bulan sesudah investor A berbelanja surat berguna tersebut. 

Akibatnya, penanam modal A merugi sampai Rp. 500.000 ((3.000*1000)-(2.500*1000)). Akan namun, karena kondisi keuangan perusahaan XYZ anggun, penanam modal A yakin bila harga saham perusahaan tersebut akan segera rebound. Akibatnya, ia tidak segera melakukan cut loss atas saham tersebut dan membiarkanya menjadi floating loss.

Cara Menghadapi Floating Loss

Meskipun sepertinya sederhana, nyatanya tidak segera melakukan cut loss mampu mengakibatkan saham nyangkut. Ambil saja teladan saham UNVR yang dalam 5 tahun terakhir mengalami downtrend yang cukup besar lengan berkuasa. Tentunya pemilik saham UNVR 5 tahun kemudian yang tidak secepatnya menjual kepemilikan mereka merasa rugi alasannya adalah sahamnya nyanngkut. 

Sebaliknya, melaksanakan cut loss yang terlalu cepat karena FOMO juga tidak baik. Tidak menutup kemungkinan bila beberapa saat lalu harga aset tersebut justru akan rebounding. Hal ini tentu merugikan trader dan penanam modal karena itu artinya mereka kehilangan potensi untuk menerima saham mempesona dengan harga yang rendah.

Oleh sebab itu, Anda perlu berhati-hati dalam menghadapi floating loss. Berikut ini beberapa cara menghadapi kondisi ini:

1. Disiplin pada rencana di trading plan

Trading plan yakni dokumen penyusunan rencana trading. Salah satu hal yang harus Anda masukkan ke dalam penyusunan rencana ini yaitu rasio toleransi Anda kepada kerugian. Sebab pada tingkat rasio inilah Anda seharusnya menjual saham yang Anda miliki (cut loss) terlepas dari perkiraan apakah harga aset tersebut akan rebound atau tidak. 

Baca Juga:   Likuiditas Saham: Apa Itu Dan Mengapa Penting?

Hal ini juga berlaku pada floating profit. Pada trading plan Anda harus mendefinisikan berapa tingkat profit yang Anda harapkan. Pada tingkat laba itulah Anda seharusnya mengambil keuntungan (take profit). 

Trading plan yakni bagian penting dalam trading dan investasi untuk menghalangi trader dan investor bersikap tidak rasional entah itu dalam bentuk takut ketinggalan (FOMO) atau rakus (greedy). Seorang trader dan penanam modal sukses umumnya bersikap disiplin terhadap penyusunan rencana ini. 

2. Membekali setiap keputusan dengan analisis dan pertimbangan yang masak

Cara kedua untuk menghadapi floating loss ialah dengan melaksanakan analisis fundamental dan teknikal kepada saham terkait. Saham-saham yang mengalami downtrend tapi tidak disertai dengan penurunan kinerja perusahaan umumnya akan segera rebound Kecuali apabila pergerakan harga saham tersebut terpengaruh sentimen pasar dan publik yang sangat besar lengan berkuasa. 

Saham yang memiliki tingkat likuiditas tinggi juga relatif lebih singkat rebound dibandingkan saham gorengan. Alasannya yakni niscaya investor memikirkan cepat atau lambatnya aset mereka mampu diubah bentuknya menjadi uang cash. 

Pada saham yang mempunyai kemungkinan rebound, di sarankan Anda untuk menanti dalam batas waktu tertentu untuk menyaksikan sinyal selanjutnya. Apabila dalam waktu yang Anda tentukan harga saham tersebut tidak juga naik atau bahkan menembus garis support, maka seharusnya Anda secepatnya melaksanakan cut loss.

3. Lihat portofolio Anda

Tidak disarankan bagi seorang investor untuk berinvestasi di satu saham saja. Investor lebih baik membagi modal investasinya untuk berbelanja beberapa saham sekaligus. Tujuannya yakni saat salah satu saham mengalami floating loss yang mesti secepatnya diiris, masih ada saham lainnya yang menawarkan keuntungan sehingga kerugian yang diderita penanam modal tidak terlampau besar. 

Apalagi kalau dalam portofolio tersebut ada keuntungan yang serupa besarnya dengan jumlah kerugian yang mesti ditanggung penanam modal. Oleh sebab itu, sebelum Anda melakukan cut loss, lihat dulu apakah ada aset lain yang menghasilkan keuntungan untuk Anda. Jika keuntungan aset tersebut sama besarnya dengan jumlah kerugian Anda, maka jangan sangsi untuk secepatnya cut loss. 

Baca Juga:   10 Anjuran Saham Jangka Panjang Terbaik (2022)

Nah, itu tadi pembahasan soal floating loss dan floating profit. Memang untuk mengambil keputusan dalam trading dan investasi yang sempurna itu diperlukan banyak pertimbangan. Namanya juga bisnis, adakalanya untung dan ada kalanya rugi juga, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya.


Bagikan:
close