Tips Untuk Pemula Yang Ingin Investasi Reksadana - KichanHelp

Tips Untuk Pemula Yang Ingin Investasi Reksadana

Bagikan:

KichanHelp.com – Pada era modern seperti sekarang, minat masyarakat pada dunia investasi semakin meningkat seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat. Pada prinsipnya, investasi menjadi salah satu cara untuk mengelola keuangan dengan menaruh aset atau modal pada produk keuangan tertentu dan mengharapkan imbal hasil di kemudian hari. Investasi reksa dana jadi salah satu produk yang perbincangan hangat di masyarakat belakangan ini.

1. Apa Itu Reksa Dana?

Istilah reksa dana berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya “menjaga dana”. Sementara itu, masyarakat dunia mengenal investasi ini dengan istilah mutual fund, atau dana kolektif. Gampangnya, reksa dana dapat kita pahami sebagai sebuah wadah yang berisi dana kolektif dari masyarakat. Dana kolektif tersebut kemudian dikelola dalam bentuk beragam portofolio efek atau produk investasi. produk investasinya bisa berupa deposito, saham, surat utang (obligasi), dan surat berharga lainnya oleh perusahaan Manajer Investasi yang sudah memiliki izin dan diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Setiap perusahaan manajer investasi memiliki ahli-ahli investasi yang bertugas mengelola dana-dana kita. Para ahli  ini juga wajib memiliki izin khusus dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

2. Bagaimana Cara Kerja Investasi Reksa Dana?

Investasi reksa dana merupakan salah satu investasi yang cukup mudah untuk dipahami. Cara kerja dari produk ini cukup sederhana. Perusahaan manajer investasi akan mengumpulkan sejumlah dana dari investor, yaitu kita. Kemudian, total dana yang terkumpul dari para investor dalam satu reksa dana akan diinvestasikan ke berbagai produk investasi seperti deposito, saham, obligasi, dan surat berharga lain sesuai dengan jenis reksa dana yang kamu pilih.

Misalnya kamu berinvestasi pada produk reksa dana pasar uang, maka perusahaan manajer investasi akan mengelola 100% dana tersebut pada produk pasar uang seperti deposito dan surat utang yang jatuh temponya < 1 tahun. Setiap investor yang ada pada satu produk reksa dana akan memperoleh keuntungan yang sama, tentunya sesuai besarnya modal investasi masing-masing. Lalu, secara berkala, kamu sebagai investor akan menerima laporan investasi dari perusahaan manajer investasi yang secara umum berisi kinerja produk dan alokasi portofolio dalam periode tertentu atau sering disebut Fund Fact Sheet (FFS).

3. Macam-macam Produk Reksa Dana

Ada beberapa jenis reksa dana yang wajib kamu ketahui, terutama jenis yang paling populer di Indonesia. Tiap jenis reksa dana memiliki perbedaan dalam hal tujuan investasi, jangka waktu investasi, strategi investasi, risiko, dan biayanya.

Baca Juga:   Biaya Dalam Investasi Reksadana Yang Ditanggung Investor

3.1. Reksa dana pasar uang

Reksa dana pasar uang adalah produk reksa dana yang menginvestasikan 100 persen dana kelolaannya pada produk pasar uang. Produk pasar uang yang dimaksud terdiri dari deposito perbankan dan surat utang (obligasi) bisa berupa surat utang perusahaan maupun Surat Berharga Negara yang jatuh temponya <1 tahun.

Imbal hasil dari reksa dana pasar uang dipengaruhi oleh perubahan tingkat suku bunga acuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI). Kalau dibandingkan dengan jenis reksa dana lainnya, reksa dana pasar uang memiliki risiko investasi paling rendah, karena dana kelolaannya dialokasikan ke deposito dan surat berharga yang jatuh temponya <1 tahun. Makanya nggak heran kalau risikonya paling kecil dibandingkan produk lainnya. Produk ini cocok untuk investor yang ingin berinvestasi jangka pendek dan pertumbuhan nilainya stabil, serta para investor yang baru mulai belajar berinvestasi.

3.2. Reksa dana pendapatan tetap

Reksa dana pendapatan tetap adalah jenis reksa dana yang mengalokasikan minimal 80 persen dan maksimum 95 persen dana kelolaannya pada produk obligasi atau efek utang yang jatuh temponya > 1 tahun. Sementara itu, sisanya maksimum 20%, minimum 5% diinvestasikan pada produk pasar uang seperti deposito dan surat utang yang jatuh temponya < 1 tahun.

Imbal hasil dari reksa dana pendapatan tetap dipengaruhi oleh suku bunga acuan BI dan nilai tukar USD terhadap Rupiah. Perlu kamu ketahui bahwa tingkat suku bunga acuan berbanding terbalik dengan pertumbuhan nilai reksa dana pendapatan tetap. Semisal suku bunga acuan rendah, harga obligasi akan naik; sebaliknya, saat suku bunga acuan tinggi, harga obligasi akan turun. 

Produk ini cocok untuk investor yang ingin berinvestasi jangka menengah (2–5 tahun) dan ingin mendapatkan imbal hasil yang lebih besar dibanding deposito dan reksa dana pasar uang.

3.3. Reksa dana campuran

Sebagaimana namanya, reksa dana campuran berisi berbagai macam produk investasi, di antaranya obligasi, saham, dan deposito. Reksa dana campuran mengalokasikan 1–79 persen dana kelolaannya pada produk obligasi atau saham dan 0–20 persen sisanya dialokasikan pada produk deposito bank.

Reksa dana campuran cocok buat kamu yang punya jangka waktu investasi menengah sampai jangka panjang. Reksa dana campuran merupakan produk yang paling fleksibel, lho. Misalnya, suatu waktu pasar saham sedang naik, maka perusahaan manajer investasi akan menambah porsi dana kelolaannya pada produk saham. Sebaliknya, kalau pasar saham sedang turun, perusahaan manajer investasi akan meningkatkan porsi dana kelolaannya pada produk obligasi dan deposito.

 3.4. Reksa dana saham

Reksa dana saham merupakan reksa dana yang mengalokasikan minimal 80 persen dana kelolaannya pada produk saham. Jadi, perusahaan manajer investasi yang mengelola dana investasimu beserta dana investor lainya, akan membeli dan menjual saham sesuai analisa ahlinya. Keuntungan dan kerugian yang kamu dapatkan nantinya didapat dari kenaikan dan penurunan harga saham-saham tersebut.

Baca Juga:   Penjelasan Lengkap Tentang Manajer Investasi Reksadana: Peran, Kewajiban, Tugas dan Fungsinya

Investasi reksa dana saham memiliki potensi imbal hasil yang paling tinggi jika dibandingkan dengan ketiga jenis lainnya. Namun, perlu diingat prinsip dasar investasi, yaitu high risk, high return. Selain potensi imbal hasilnya tinggi, risiko dari reksa dana saham juga tinggi. Makanya, nggak heran kalau nilai harian reksa dana saham naik dan turun setiap harinya, karena dipengaruhi oleh pergerakan harga saham-saham yang terdapat di dalam produk reksa dana saham tersebut. Produk ini cocok untuk seorang risk taker yang punya jangka waktu investasi panjang (>5 tahun). 

3.5. Reksa dana indeks

Reksa dana indeks merupakan jenis reksa dana saham yang alokasi dana investasinya mengikuti indeks acuan. Dalam hal ini, indeks yang dimaksud adalah indeks harga saham-saham. Di Indonesia, terdapat berbagai indeks yang menjadi acuan pasar saham, di antaranya yang terpopuler yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks LQ45, Indeks IDX30, Indeks Bisnis-27, dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan reksa dana saham yang target kinerja portofolionya mengalahkan benchmark, reksa dana indeks menargetkan kinerja portofolionya untuk menyamai benchmark atau indeks yang menjadi acuannya. Sebagai contoh, produk reksa indeks BNI-AM Indeks IDX30. Isi dari portofolio produk BNI-AM Indeks IDX30 adalah saham-saham yang masuk ke dalam indeks tersebut. Indeks IDX30 berisi 30 saham perusahaan terbaik yang memiliki likuiditas tinggi, kapitalisasi pasar yang besar, serta memiliki fundamental perusahaan yang baik. Jadi, kinerja dari reksa dana indeks akan menyerupai pergerakan indeks yang menjadi acuannya.

Sama halnya dengan reksa dana saham, produk ini cocok buat kamu yang punya target waktu investasi yang panjang (>5 tahun).

Bagi investor pemula, tentu bingung bagaimana memulai berinvestasi reksadana termasuk memilih jenisnya. Bagi investor pemula, bingung itu hal wajar. Namun berikut adalah tips mudah untuk memulai investasi reksadana.

1. Tentukan Tujuan

Sebelum berinvestasi di reksadana, kita harus tahu tujuan dari investasi ini. Apakah tujuannya jangka panjang ataukah untuk kebutuhan mendesak saat ini? Lalu, apakah uang itu akan digunakan untuk membayar biaya kuliah tahun depan, atau untuk membiayai pensiun yang masih puluhan tahun lagi?

2. Ketahui Profil Risiko

Setelah tahu tujuan, kita juga harus mempertimbangkan risiko sesuai dengan profil risiko kita sebagai investor. Bisakah kita menerima perubahan dramatis dalam nilai portofolio? Atau, apakah investasi konservatif lebih cocok buat kita? profil risiko investor umumnya dibagi menjadi tiga :

a. Tipe Konservatif (risk averse)

Investor bertipe konservatif ini memiliki profil risiko yang rendah dan cenderung menghindari risiko (risk averse). Dalam hal berinvestasi, investor ini lebih menyukai instrumen investasi yang aman dan takut jika pokok investasi (modal awal) akan berkurang. Selain itu, tipe investor ini juga merasa nyaman dengan instrumen investasi yang imbal hasilnya tidak terlalu besar tetapi bergerak stabil.

Baca Juga:   Inilah Keuntungan Dalam Berinvestasi Reksadana

Instrumen invetasi yang cocok untuk investor dengan profil ini seperti tabungan, deposito, dan reksadana pasar uang. Instrumen lain seperti reksadana pendapatan tetap atau obligasi pemerintah juga dapat menjadi pilihan investor berprofil risiko ini.

b. Tipe Moderat (sedang)

Investor yang berprofil risiko moderat (sedang) ini memliki karakteristik yang siap menerima fluktuasi jangka pendek dengan potensi keuntungan yang diharapkan dapat lebih tinggi dari inflasi dan deposito. 

Pilihan jenis reksadana yang cocok untuk tipe investor moderat ini adalah reksadana campuran yang risikonya masih relatif rendah, dibandingkan dengan saham atau reksadana saham. Namun, reksadana campuran ini juga memiliki potensi keuntungan yang tidak kalah dari reksadana jenis lainnya. Reksadana pendapatan tetap juga masih cocok bagi investor tipe moderat.

c. Tipe Agresif

Pemilik profil risiko agresif sangat siap untung dan juga siap rugi (risk taker). Orang dengan profil risiko agresif siap kehilangan sebagian besar bahkan seluruh dana investasinya demi imbal hasil yang besar.

Pemilik profil risiko agresif ini siap untuk berinvestasi di seluruh instrumen keuangan seperti reksadana saham dan juga termasuk trading saham, forexindex dan komoditas. Tipe ini juga biasanya memiliki keberanian untuk terjun langsung ke dunia bisnis dan properti.

3. Pilih Reksadana yang Sesuai

Bila kita masih pemula, sebaiknya pilih investasi dengan risiko rendah seperti reksadana pasar uang, yang isi portofolionya adalah deposito dan instrumen pasar uang.

Reksadana jenis ini cocok untuk investasi dengan jangka waktu di bawah 1 tahun. Kemudian, ketika sudah semakin mengenal investasi, kita bisa coba reksadana pendapatan tetap yang portofolionya adalah obligasi. Reksadana ini memiliki risiko moderat dan cocok untuk investasi jangka waktu 1-3 tahun.

Kalau sudah mahir dan berani mengambil risiko tinggi, kita bisa memilih reksadana saham atau indeks saham. Reksadana ini memiliki risiko tinggi dan cocok untuk investasi jangka panjang di atas 5 tahun.

4. Baca dan Riset

Sebelum mempercayakan dana kita untuk dikelola manajer investasi dalam produk reksadana, kita perlu mengetahui apa isi portofolionya.

Selalu baca prospektus dan fund fact sheet (laporan bulanan) reksadana sebelum membeli. Selain itu, riset juga rekam jejak manajer investasi dan bagaimana mereka mengelola dana. Kinerja di masa lalu bisa memberi gambaran tentang cara manajer investasi mengelola dana ke depan.

5. Rutin Investasi

Pastikan kita bisa menyisihkan dana investasi secara rutin dari penghasilan bulanan. Besarannya disesuaikan dengan kemampuan kita, misal 10 persen dari gaji bulanan. Tidak perlu besar, asalkan rutin, lama-lama uang bisa terkumpul.

Bagaimana, apakah kamu sudah siap memilih jenis produk reksadana untuk investasi? Apapun jenis reksadana yang dipilih, pastikan sesuai dengan profil keuangan kamu ya!


Bagikan:
close