fbpx

Turnover Saham: Pemahaman, Cara Mengkalkulasikan, Teladan, Limitasi

Bagikan:

Salah satu faktor yang perlu diamati dikala menentukan aset yakni likuiditas aset tersebut. Likuiditas ialah faktor yang mewakili sering atau tidaknya sebuah aset diperjualbelikan. Semakin tinggi tingkat likuiditas, maka kian gampang pula seorang investor untuk memasarkan aset yang beliau miliki atau membeli aset gres. 

Likuiditas suatu saham dihitung dengan matriks yang bernama turnover saham atau yang dalam model Bahasa Inggrisnya disebut dengan share turnover. Pahami apa itu share turnover dengan membaca postingan di bawah ini. 

Pengertian Turnover Saham

Turnover saham ialah matriks yang dipakai untuk mengkalkulasikan likuiditas. Hasil perhitungan ini diperoleh dengan cara membagi jumlah saham sebuah perusahaan yang diperjualbelikan dalam satu kurun tertentu dengan total jumlah saham perusahaan tersebut yang beredar di masa yang sama.

Semakin tinggi nilai matriks ini, maka makin tinggi pula tingkat likuiditas saham tersebut. Artinya, penanam modal atau trader juga akan lebih gampang memasarkan aset tersebut dan membelinya kembali alasannya jumlah pembeli relatif sama dengan jumlah pedagang .

Matriks ini penting baik untuk investor, trader atau perusahaan itu sendiri. Karena, jika suatu saham tidak likuid, investor akan kesusahan menjual dan membelinya. Akibatnya, aset tersebut tidak laku dan perusahaan merugi. 

Cara Menghitung Turnover Saham

Seperti yang sudah tertulis di atas, cara menghitung matriks ini ialah dengan membagi jumlah saham sebuah perusahaan yang diperjualbelikan dalam satu abad tertentu dengan total jumlah saham yang dirilis oleh perusahaan tersebut.

Rumus turnover saham yakni Share turnover = (jumlah saham yang diperdagangkan) / (total jumlah saham yang dirilis oleh perusahaan).

Apabila jumlah saham yang diperdagangkan (volume transaksi) dalam satu abad bermacam-macam, maka Anda perlu mengkalkulasikan nilai rata-ratanya terlebih dahulu. 

Baca Juga:   5 Saham Bank Digital Di Bei

Begitu pula kalau perusahaan menambah atau menghemat jumlah saham yang mereka rilis pada kurun yang Anda analisis. Anda harus memperbesar atau mengurangi jumlahnya dulu. 

Contoh

Misalnya, PT X merilis 1.000.000 lembar saham di Bursa Efek Indonesia pada tanggal 21 April 2021. Keesokan harinya, jumlah saham PT X yang diperdagangkan yaitu sebesar 100.000 lembar. Maka, nilai share turnover-nya yaitu sebesar:

Share Turnover = 100.000/1.000.000= 0,1 atau 10%. 

Faktor Yang Mempengaruhi Turnover Saham

Menurut CEO dari Pillar Wealth sebagaimana dilaporkan oleh Thebalance, tidak ada kriteria yang pasti tentang berapa nilai turnover saham yang bagus. Sebab, nilai matriks ini bisa bermacam-macam baik untuk perusahaan besar maupun perusahaan kecil.

Hal ini bisa jadi dipengaruhi beberapa faktor berikut ini:

1. Harga

Sesuai dengan hukum ajakan dan penawaran untuk barang normal (wajar goods), peningkatan harga berkorelasi negatif dengan seruan. Artinya, bila harga saham suatu perusahaan besar naik hingga puluhan ribu rupiah per lembar, maka kemungkinan besar jumlah permintaannya akan jatuh sehingga investor lama akan kesusahan menjual aset yang mereka miliki.

Sebaliknya, harga saham yang terjangkau memungkinkan perusahaan kecil untuk mempunyai share turnover yang tinggi.

2. Kinerja perusahaan

Kinerja suatu perusahaan berpengaruh tidak pribadi pada indikator ini. Sebab, kinerja perusahaan akan menghipnotis seruan dan harga terlebih dulu. Kinerja baik suatu perusahaan lazimnya akan mengembangkan jumlah ajakan saham perusahaan tersebut. Akibatnya, dalam beberapa ketika harga aset tersebut akan naik sebelum karenanya turun kembali. 

3. Jumlah trader yang aktif di saham perusahaan tersebut

Berbeda dengan investor, trader yakni orang yang setiap hari aktif menjual dan membeli saham sebuah perusahaan. Makara, kian banyak trader yang aktif menjual dan berbelanja suatu saham pada masa waktu tertentu, mampu berpengaruh kepada share turnover saham tersebut. 

4. Komposisi pemegang saham suatu perusahaan

Tidak semua saham perusahaan diperjualbelikan di bursa dan dimiliki oleh investor ritel. Ada juga takaran saham yang dimiliki oleh keluarga pemilik perusahaan itu atau institusi lain yang bekerjasama dengan mereka. 

Baca Juga:   7 Aplikasi Screening Saham Gratis Terbaik

Faktor ini menghipnotis turnover saham sebab, bertambah banyak saham suatu perusahaan yang dimiliki oleh investor ritel, maka semakin tinggi likuiditasnya. Alasannya yakni investor ritel atau trader relatif lebih tekun menjual dan membeli aset di Bursa Efek dibandingkan penanam modal institusi.

5. Kepercayaan penanam modal kepada perusahaan

Dalam perkara-masalah tertentu, nilai share turnover perusahaan bisa rendah bukannya sebab tidak adanya peminat (seruan) tapi alasannya adalah penanam modal yang mempunyai saham perusahaan tersebut tak ingin menjual asetnya sebab sungguh percaya jika investasi di perusahaan itu akan menguntungkan. 

Contohnya, saham Apple inc pada tahun 2018 yang cuma memiliki nilai share turnover sebesar 1%. Ketika itu, performa perusahaan teknologi ini cukup baik sehingga harga sahamnya yang sudah mahal jadi tambah mahal. 

Namun, hal ini bantu-membantu tidak menyurutkan seruan investor atas aset tersebut. Hanya saja, kemungkinan besar memang investor yang telah berinvestasi di perusahaan ini enggan memasarkan kepemilikannya.

Kaprikornus, kalau Anda berpikir bahwa mengapa share turnover suatu perusahaan besar tidak tinggi, maka mampu jadi dipengaruhi 5 faktor di atas.

Limitasi

Turnover saham yang tinggi cuma mengindikasikan likuiditas saham suatu perusahaan dan tidak mencerminkan kinerja perusahaan tersebut. Bisa jadi, turnover saham yang rendah ialah balasan peningkatan performa suatu perusahaan dan bisa jadi pula nilai turnover saham yang tinggi pada perusahaan kecil diakibatkan karena banyak trader yang ingin membuatnya sebagai saham gorengan. 

Oleh alasannya adalah itu, Anda juga mesti melengkapi matriks ini dengan menganalisis indikator fundamental lainnya mirip ROE, Earnings per Shares, Debt to Equity Ratio dan lain sebagainya. 

Pengaruh Turnover Saham 

Bagi investor, matriks ini secara umum kuat terhadap lama atau tidaknya suatu saham mampu terjual atau terbeli dengan harga yang diharapkan. Tentu hal ini akan berpengaruh kepada jumlah kerugian yang mesti diderita penanam modal jika harga aset tersebut terus menerus turun. 

Sementara itu, bagi para trader matriks ini kuat lebih tinggi. Sebab, keuntungan yang diperoleh trader, utamanya scalper dan day trader, sungguh terpengaruh dengan kecepatan pergantian harga. Bagi trader, nilai likuiditas yang tinggi memiliki peluang menciptakan laba sekaligus kerugian yang tinggi pula. 

Baca Juga:   Rebound Saham: Pemahaman, Cara Mengetahui, Tips

Di segi lain bagi perusahaan nilai share turnover yang rendah mampu mempunyai arti bahwa saham yang mereka rilis tidak digemari pasar atau terlalu mahal sehingga ada kemungkinan jikalau perusahaan tersebut ingin merilis saham lagi tidak akan laku. 

Untuk menanggulangi hal ini perusahaan bisa menerapkan kebijakan mirip, memperbaiki kinerja atau mengaplikasikan stock split semoga harga aset tersebut bisa terlihat lebih murah. 

Penutup

Turnover saham diperoleh dengan cara membagi volume transaksi suatu saham pada era tertentu dengan jumlah saham tersebut yang beredar di bursa. Matriks ini penting untuk mengukur likuiditas tetapi tidak mampu menjadi standar kinerja perusahaan yang merilis aset tersebut.

Additional source: Investopedia.


Bagikan: